Benarkah Jodoh di Tangan Tuhan (Allah) ?


Jodoh

Pertanyaan mengenai konsep Jodoh, telah menjadi sebuah pertanyaan besar bagi saya. Saya masih ingat betul, pertanyaan ini muncul ketika saya berdiskusi dengan salah satu teman saya yaitu Edi Setiawan, saat itu (2013) saya masih merantau di Jogja.

Berbicara mengenai Jodoh di Tangan Tuhan, Saya yakin akan banyak orang yang memiliki pendapat yang berbeda. Satu kubu akan memiliki pendapat "Ya, jodoh sudah di tentukan sejak lahir", di satu kubu lainnya, akan memiliki pendapat "Tidak, jodoh harus kita usahakan, terbukti kita di minta untuk berdoa dan berikhtiar mencari jodoh".

Kemudian rasa penasaran ini saya tuangkan dengan mencari referinsi dari Al-Qur'an dan Hadist.
Rasulullah SAW bersabda: Telah aku tinggalkan bagi kamu (ummatku) dua perkara yang apabila kamu berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kamu tidak akan tersesat selamanya: Yaitu Kitabulloh dan Sunnahku.
Hingga akhirnya pada Juni 2015 yang lalu, saya melakukan diskusi dengan sahabat saya, Ahmad Fahmi yang ternyata juga memiliki pendapat yang sama dengan saya.

Rasa penasaran saya, masih belum terpecahkan, hingga akhirnya saya berdiskusi dengan teman saya yang lainnya, Isya M Fitroh. Dari tulisanya saya tahu dia juga bimbang, tapi akhirnya dari hasil kita diskusi, saya menemukan titik terang, yaitu sebelum mengetahui konsep jodoh, kita harus tahun apa itu Qadha dan Qadhar.

Pada akhirnya saya mencari informasi mengenai Qadha dan Qadhar, hingga akhirnya saya menemukan sebuah tulisan dari Prof. Dr. H. Muhammad Quraish Shihab, MA mengenai Qadha dan Qadhar. Tulisan tersebut bisa dibaca disini. Pada awal paragraf tersebut dijelaskan bahwa:
Pada zaman Rasul, tidak ada wacana tentang taqdir, baru ada ketika jaman Khalifah kedua, Umar bin Khatthab muncul istilah tersebut, kemudian makin berkembang ketika jaman khalifah Ummayyah setelah khalifah ali. Saat itu, taqdir dipersepsikan salah.
Jadi pada dasarnya, Islam memang hanya mengenal yang namanya Qadha dan Qodar. Lalu apa tu Qadha dan Qodhar?. Dalam tulisan tersebut juga dijelaskan:
Qadha itu adalah rumusan-rumusan Allah secara global, seperti misalkan bahwa tiap makhluk yang bernyawa pasti mati. Sedangkan Qadhar/Taqdir adalah rumusan-rumusan Allah yang terinci atau rinciannya, seperti misalnya ayam akan mati pada saat apa dan dimana.  Sedangkan Qadhar/Taqdir pada manusia adalah tergantung dari pilihan manusia itu sendiri.

Jadi kesimpulannya adalah Qadha dan Qadhar adalah sistem Allah yang berlaku di dunia ini pada siapapun dan apapun. Hanya kita sebagai manusia dipersilahkan untuk memilih Qadhar/Taqdir, mau beriman silahkan, mau kafir juga boleh masing-masing ada Qadhar/Taqdirnya. Allah menghendaki kita memilih Qadhar/Taqdir yang terbaik buat kita.
Jadi bisa disimpulkan jika takdir (taqdir) adalah Qadhar yang kita sebagai manusia dipersilahkan untuk memilinya sendiri. Saya juga setuju dengan konsep Taqdir yang saya baca disini, dalam tulisan tersebut di tuliskan:
Allah hanya memberikan tuntunan, melalui sinyal-sinyal yang dia berikan, keputusan tetap ada pada kita. Jadi, Allah tidak memperlakukan kita seperti bidak catur…”Kamu, ke sini aja ya…? biar ntar ke neraka….” , “Nah, kamu kesana aja…supaya masuk surga..”…Saya kira tidak begitu. Hal tersebut tentu saja tidak adil, percuma saja kita hidup kalau misalkan Allah sudah menentukan “Kamu masuk Surga…”, “Kamu masuk Neraka…”. Dan untuk apa ada penghisaban di akhirat kalau jelas-jelas kita masuk neraka atau surga.
So, dapat kita pahami jika jodoh masuk dalam kriteria Qadhar, yang dimana segala sesuatu tergantung dari pilihan manusia itu sendiri, tergantung manusianya pilih mana, pilih baik atau buruk. Hal tersebut juga telah di jelaskan dalam Al-Qur'an.
Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26).
Ayat tersebut juga semakin menguatkan jika jodoh adalah Qadhar, dimana ketika kita memilih menjadi orang yang baik, kelak kita akan dipertemukan dengan jodoh yang baik pula, begitu juga dengan sebaliknya.

Jika jodoh manusia sudah di tentukan sejak lahir, Allah tentu akan mengingkari firmannya sendiri pada akhirnya (Ingat, Allah tak pernah ingkar). Karena apa? karena ketika manusia lahir, kita tak bisa menebak apakah dia akan jadi orang baik atau jadi orang jahat, semua kembali lagi pada Qadhar (memilih menjadi baik atau buruk) itu sendiri.

Melanjutkan pembahasan mengenai Jodoh adalah Qadhar yang dimana kita sebagai manusia bisa memilih, ada baiknya kita juga membaca hadist berikut ini:
Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, kedudukannya (keturunannya), kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang memiliki agama. (Hr. Bukhori Muslim).
Agama menganjurkan laki-laki memilih wanita yang memiliki agama, pada akhirnya dari hadist tersebut kita bisa menggarisbawahi jika jodoh adalah sebuah pilihan bukan?.

Selain itu, ada juga hadist lain yang dapat kita jadikan sebuah acuan jika jodoh adalah Qadhar (pilihan manusia sendiri).
Nikahilah oleh kalian wanita yang penyayang lagi subur (banyak anaknya) karena aku (Nabi Muhammad) akan berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat yang lain. (HR. Abu Daud dan Nasai. Dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam "Ash Shahihul Musnad Mimma Laysa fis Shahihain" 2/211).
Dari kata "Nikahilah" pada hadist tersebut, Rosulullah menganjurkan agar laki-laki menikahi wanita yang subur (maaf: tidak mandul), karena Rosullullah ingin umat Islam menjadi umat terbesar di Dunia ini.

Bayangkan jika jodoh manusia sudah di tentukan sejak lahir, dan dari sananya Laki-laki telah di jodohkan dengan wanita yang (maaf) mandul, tentu akan banyak laki-laki yang bilang Allah tidak adil, dan untuk apa ada hadist tersebut juga?

Jadi dari sekian panjang pembahasan ini, saya secara pribadi menyimpulkan jika Jodoh adalah sebuah Qadhar. Dimana Qadhar adalah sesuatu yang manusia itu sendiri yang menentukan, ketika kita berbuat baik, kita akan mendapatkan balasan yang baik pula, ini adalah hukum sebab-akibat pada dasarnya.

Saya mengakui jika Jodoh memang di tangan Allah, namun jodoh tidak di tentukan sejak manusia lahir, melainkan Qadhar yang harus kita pilih sendiri.

Wallahu A'lam Bishawab.